Tidak Sanggup Beranak Banyak, Ikut KB

Posted on Juni 22, 2008. Filed under: KB |

“Ondeh, dak talok dek awak melahirkan banyak anak doh” (tidak sanggup saya melahirkan banyak anak), begitu Upik, seorang wanita berusia sekitar 40-an saat ditanya kenapa ia mengikuti program Keluarga berencana.

Siang itu, Upik datang dengan pakaian menarik dengan kondisi tubuh terawat. Dia mengantri duduk di kursi depan kantor Dinas Kesehatan Kota Pariaman yang dijadikan sebagai pusat pelayanan KB untuk kawasan Kabupaten dan Kota Pariaman. Dengan sabar dia menunggu namanya dipanggil untuk memasang alat kontrasepsi.
Tak beberapa kemudian namanya dipanggil. Dengan bergegas dia masuk ruangan untuk melakukan pemasangan alat kontrasepsi.
“Saya sudah memasang alat kontrasepsi sejenis suntik selama sepuluh tahun. Namun kali ini saya mencoba memakai implant,” jelasnya dengan polos usai mendapat pelayanan.
Dahulu, suaminya sempat melarang Upik memasang alat kontrasepsi. Karena, sang suami mempunyai keinginan memiliki anak laki-laki. Namun, ibu dua anak ini tetap memasangnya secara diam-diam dan tersembunyi. Dengan alasan, kondisinya tidak sanggup melahirkan anak lagi.
“Sudah cukup dua anak perempuan bagi saya. Saya ingin membesarkan keduanya dengan penuh kasih sayang dan saya bertekad untuk menyekolahkan keduanya hingga perguruan tinggi,” ungkapnya.
Menurutnya, pada zaman sekarang ini biaya untuk sekolah cukup mahal. Jika dia memiliki banyak anak tentu dia tidak mampu mem¬biayai anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Apalagi dengan penghasilan suami sebagai wiras¬wata yang harus bekerja keras dalam memperoleh penghasilan yang cukup besar.
Tak beberapa lama dia teringat kembali ketika sang suami melar¬angnya untuk memasang alat kontrasepsi. Akan tetapi larangan itu berhasil dimusnahkannya. Dengan menyakinkan suaminya, bahwa efek positif jika dia memasang KB.
“Saya menjelaskan kepada sang suami. Bahwa kebutuhan hidup dari tahun ke tahun terus meningkat. Jika kita memiliki anak banyak, tentu kita susah untuk membesarkan dan memberikannya pendidikan dan kehidupan yang layak. Jadi cukup kita memiliki dua anak saja. Apapun jenis kelaminya, itu sama saya,” katanya membeberkan rahasia jika kaum ibu berkeinginan menyakinkan suami yang melarang memasang alat kontrasepsi.
Akhirnya, suami Upik tersebut mendorongnya untuk terus memakai alat kontrasepsi hingga sekarang.
Tidak hanya Upik yang memiliki keinginan kuat untuk membatasi jumlah anak, Eni Sukartini juga berniat memasang alat kontrasepsi. Dengan memboyong anak yang masih balita. Dia masuk ruangan tempat pemasangan alat kontrasepsi.
“Kali ini saya mencoba memasang alat kontrasepsi jenis implant. Pasalnya, saya ingin membatasi jarak anak,” terangnya.
Salah satu alasan dia memakai alat kontrasepsi, karena di usianya yang 33 tahun, Eni Sukartini telah memiliki anak tiga. Sehingga dia takut jika dia akan memiliki anak lebih dari lima orang, karena itu dengan cepat terus mengunakan alat kontrasepsi.
“Awalnya saya memakai alat kontrasepsi jenis suntik dan spiral. Tapi, tetap aja memperoleh anak. Kali ini saya mencoba mengunakan alat kontrasepsi jenis implant,” tambahnya. Lenggogeni

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: