Program Vasektomi Dihentikan Tindaklanjuti Fatwa, BKKBN Coba Dekati MUI

Posted on Januari 28, 2009. Filed under: Tidak terkategori |

Rabu, 28 Januari 2009
Padang, Padek– Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumbar sementara memutuskan untuk menghentikan program vasektomi sebagai alat kontrasepsi bagi umat muslim. Keputusan ini diambil pascakeluarnya pernyataan haram tentang penggunaan vasektomi dari MUI. Meski pun demikian saat ini BKKBN tetap akan melakukan pendekatan kepada MUI, sebab pada beberapa kasus, vasektomi merupakan jalan satu-satunya untuk menghambat kelahiran.
“BKKBN pusat saat ini sedang mencoba melakukan pendekatan kepada MUI untuk membahas lebih lanjut tentang fatwa haram program vasektomi, sebagai salah satu cara menghambat kelahiran. Menunggu hasil keputusan BKKBN pusat, saat ini kami memutuskan untuk tidak melayani vasektomi bagi keluarga yang beragama muslim.
Sedangkan bagi non muslim tetap kami berikan pelayanan seperti biasa,” ujar Kepala Dinas BKKBN Sumbar Ary Goedadi didampingi Kepala Bidang KB Nofrijal kepada Padang Ekspres di ruang kerjanya, Selasa (27/1). Pendekatan yang dilakukan BKKBN pusat menurutnya lebih mengacu kepada kemungkinan tetap diberlakukannya penggunaan vasektomi, sebagai salah satu alat untuk KB.  Sebab dalam program ini, ada sejumlah persyaratan yang mesti dipenuhi seseorang, untuk mendapatkan tindakan vasektomi. Di antaranya pada kondisi istri, tidak satupun program KB  yang cocok untuk digunakan.
Sementara jika si istri tetap hamil, berisiko terhadap kondisi kesehatannya, apalagi anaknya memang banyak, hingga enam orang. Vasektomi tidak akan diperbolehkan bagi keluarga yang baru memiliki dua orang anak yang masih kecil, atau umur anak pertama belum lagi sampai lima tahun.  Mengacu pada ketentuan tersebut, BKKBN yakin sebenarnya vasektomi sangat membantu bagi keluarga. Seperti diperbolehkannya aborsi bagi calon ibu yng memang kehamilan tersebut membahayakan kesehatan. Apalagi saat ini berkat kemajuan teknologi, saluran vasektomi dapat dibuka kembali melalui recalisasi. Sehingga saluran reprosuksi tersebit dapat kembali berfungsi membuahi. Hanya saja hingga saat ini memang belum ada.
Namun jika memang nantinya, MUI tetap bersikukuh tidak akan mengubah fatwa, BKKBN akan mengikuti pelarangan tersebut. Sebab bagaimanapun, MUI merupakan lembaga  yang memang memiliki kewenangan. Sebaliknya, program vasektomi akan tetap berlaku bagi keluarga non muslim. Ary menjelaskan hingga saat ini jumlah pengguna program vasektomi di Sumbar kurang lebih 200 orang dari 500 ribu orang pengguna alat kontrasepsi lainnya. Pelaksanaan vasektomi sendiri merupakan subsidi dari pemerintah, sehingga penggunanya tidak membayar, untuk tindakan vasektomi.
Tindakan operasi tersebut termasuk operasi kecil hanya membutuhkan waktu lima hingga tujuh menit. Operasi ini dilakukan langsung dokter spesialis urologi. Sekadar diketahui, KB Pria pada Maret 2009 akan lebih populer dengan sebutan KB Junjungan, telah dikenalkan di Sumbar sejak tahun 2007. Catatan BKKBN Sumbar, jumlah pria ber KB pada November 2007 tercatat 1,3 persen. Sedangkan November 2008 naik menjadi 2,04 persen atau sebanyak 11.010 orang.
Persentase tersebut telah menembus standar nasional yang hanya 1,6 persen. Bahkan tingkat partisipasi pria yang ikut KB di Minang, melebihi target yang sudah ditetapkan. Meski kontrasepsi yang paling banyak digemari adalah kondom, tapi vasektomi juga banyak. Tahun 2008 jumlah peserta KB lelaki dengan alat kontrasepsi kondom, 10.790 orang sedangkan vasektomi 220 orang. Sedangkan 2007 kondom 4.708 orang dan Vasektomi naik mencapai 132 orang. Pada umumnya peserta KB lelaki berasal dari lelaki yang berpendidikan tinggi.
Tetap Lakukan Vasektomi
Salah seorang dokter spesialis bedah dan urologi dr Dodi Efmansyah SpB.SpU secara terpisah menyatakan tidak akan terpengaruh dengan fatwa MUI tersebut. Ia pribadi tetap akan melakukan tindakan vasektomi tersebut sesuai dengan permintaan pasien, sekali pun pasien tersebut muslim. Tanggung jawab profesi menurutnya merupakan alasan hal tersebut tetap akan dilaksanakannya.
“Saya tetap akan lakukan vasektomi, jika memang pasien tersebut menghendaki. Ini adalah profesi saya, jadi saya tetap harus menjalankannya. Apalagi saat ini ada tindakan recanalisasi, sehingga jika pasien tersebut berkeinginan, dibuka kembali saluran reproduksinya, saluran tersebut akan kembali berfungsi,” ujarnya.
Namun menurutnya hingga saat ini belum ada pasien yang meminta tindakan recanalisasi. Sebab pada dasarnya pasien yang melakukan tindakan vasektomi memang berkeinginan untuk tidak memiliki keturunan lagi. Tindakan vasektomi sendiri dapat dilakukan melalui tindakan operasi yang memakan waktu maksimal hingga satu jam. Dalam tindakan tersebut, saluran reproduksi yang berada pada skortum laki-laki akan disambung kembali dan dapat berfungsi. (nia/cr2)  Harian Padangekspres, Rabu (28/1)

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: