AKI dan AKB Menurun, Apa Iya?

Posted on Januari 4, 2010. Filed under: Tidak terkategori | Tag: |

Dari laporan akhir tahun Dinas Kesehatan Sumatera Barat tanggal 30 Desember 2009 di Harian Singgalang, pembangunan bidang kesehatan selama beberapa tahun terakhir dikatakan meningkat.

Hal itu dilihat dari Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2006, 36 per 100.000 kelahiran hidup yang turun menjadi 34 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Kemudian, pada tahun 2008 turun lagi menjadi 30 per 100.000 kelahiran hidup.

Sementara, Angka Kematian Ibu (AKI) menurut estimasi Badan Pusat Statistik Sumbar mengalami penurunan dari tahun 2006, 230 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 229 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Tahun 2007 turun lagi menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup.

Tapi, apakah angka-angka itu memang benar-benar riil atau tidak, hanya Dinas Kesehatan saja yang tahu. Karena, sejauh ini belum ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengkhususkan pada persoalan kesehatan di Sumbar. Sehingga, tidak ada pengontrol dan pengkritisi kebijakan serta perbandingan angka-angka yang disuguhkan pemerintah daerah.

Bukan tanpa alasan saya mempertanyakan angka-angka itu. Soalnya, sewaktu anak pertama kami dirawat di salah satu rumah sakit pemerintah di Padang, selama 23 hari di rumah sakit saja, ada 13 bayi  yang meninggal dunia.

Selain itu, masih belum nampak adanya upaya maksimal untuk menurunkan AKI maupun AKB itu. Misalnya, tenaga medis rumah sakit yang lamban dalam memberikan pertolongan bagi ibu dan bayi yang membutuhkan pertolongan. Di ruang NICU yang seharusnya tenaga medis stand by 24 jam, juga masih belum maksimal. Misalnya, tidak selalu perawat dan dokter memantau perkembangan pasien setiap jam. Apalagi pada malam hari, lebih banyak tidur daripada memantau keliling.

Sementara, menurut Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Dr.Rosnini Savitri, peningkatan pembangunan kesehatan di daerah itu juga dapat dilihat dari usia harapan hidup masyarakat Sumbar yang meningkat menjadi 68,9 tahun pada 2008. Sementara, tahun 2007 hanya 68,8 tahun.

Peningkatan pembangunan bidang kesehatan, kata Rosnini, juga dilihat dari berbagai pelayanan yang diberikan rumah sakit, Posyandu dan Puskesmas. Pada tahun 2007 telah berhasil dibangun Posyandu plus yang dilakukan pada 11 kabupaten/kota di Sumbar.

Salah satu indikator peningkatan kinerja rumah sakit atau baiknya mutu layanan di rumah sakit dapat diukur dengan BOR (Bed Occupation Rate). Pada tahun 2007, telah dapat dicapai sebesar 71,2 persen, sedangkan BOR pada tahun 2008 (hingga September) baru 62 persen.

Sejalan dengan itu, indikator lain dilihat dari kunjungan yang semakin meningkat. Ditengarai karena semakin meningkatnya mutu pelayanan yang diberikan di Puskesmas serta besarnya pemanfaatan kartu miskin dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Keberhasilan pembangunan kesehatan juga dilihat dari sejumlah penghargaan dari tingkat pusat.

Tapi, sekali lagi, itu hanyalah klaim dari Dinas Kesehatan saja. Sementara, kami, pengguna layanan kesehatan, masih merasakan layanan kesehatan yang tidak maksimal. Bukan permasalahan pada gratis atau murahnya, tapi pada keramahtamahan tenaga medis, pertolongan yang cepat dan cekatan pada pasien yang membutuhkan, serta transparansi dan komunikasi yang baik pada keluarga pasien. Kapan pembangunan kesehatan yang benar-benar maksimal bagi masyarakat dapat tercapai? Entahlah.

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: