Archive for Januari 14th, 2010

AKI Melahirkan Masih Mengkhawatirkan

Posted on Januari 14, 2010. Filed under: Tidak terkategori | Tag: |

Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Indonesia masih mengkhawatirkan. Buktinya, jika dilihat dari Human Development Indeks (HDI), Indonesia masih ketinggalan, yakni peringkat 112 dari 177 negara.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumatera Barat, Muhammad Yamin Waisale, AKI melahirkan dan bayi di Indonesia masih tinggi. Dibandingkan negara tetangga, Malaysia, AKInya 47/100.000 kelahiran hidup dan Srilangka 150/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan Indonesia, 307/100.000 kelahiran hidup.

Begitu juga Angka Kematian Bayi (AKB)nya, menurut catatan SDKI tahun 2007 mencapai 35/1.000 kelahiran hidup.

Khusus untuk Sumbar, AKInya adalah 230/100.000 kelahiran hidup. Sementara, AKBnya 30/1.000 kelahiran hidup.

Kondisi itu, kata Waisale usai membuka sosialisasi kelangsungan hidup ibu bayi dan balita bagi pasangan usia subur di Nagari Sungai Naning Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, 10 November 2009, disebabkan karena letak daerah di Indonesia yang banyak pelosok dan terisolir. Sehingga, daerah tersebut kurang dijangkau.

Sebanyak 85 persen dari kematian ibu dapat ditekan asalkan masyarakat tahu dan mau berperan serta mengupayakan keselamatan. Usaha yang harus dilakukan dengan cara bekerja keras, terpadu, terintegrasi dan berkoordinasi dengan semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun tokoh masyarakat, terutama yang peduli terhadap keselamatan ibu melahirkan.

Selain itu, perlu dilakukan advokasi KIE ke semua elemen masyarakat agar berperan aktif dalam keselamatan ibu melahirkan. Dengan cara melakukan pemetaan jangkauan sosialisasi hingga ke pelosok nagari. Kembangkan desa siaga tahun 2010, meningkatkan pembinaan dan kapasitas serta frekuensi pembinaan kader. (Lenggogeni)

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Persalinan dengan Dukun Masih Tinggi di Agam

Posted on Januari 14, 2010. Filed under: Tidak terkategori | Tag: |

Di Kabupaten Agam Sumatera Barat, tingkat persalinan dengan menggunakan jasa dukun beranak masih tinggi. Dari data Dinas Kesehatan setempat, persalinan yang memanfaatkan dukun mencapai 54 persen. Sementara, yang ditolong bidan 40 persen dan dokter 3,2 persen.

Pemerintah Kabupaten Agam berupaya agar persalinan dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Salah satunya melalui program Gerakan Sayang Ibu (GSI). Dikatakan Bupati Agam, Aristo Munandar saat pelaksanaan program GSI, 26 November 2008 lalu, selama ini tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) selain disebabkan oleh faktor keterlambatan pertolongan karena tiga hambatan, seperti geografis, ekonomis dan sosiokultural, juga karena persalinan sebagian besar masih ditolong oleh dukun.

GSI merupakan program yang dilaksanakan oleh masyarakat bekerja sama dengan pemerintah dengan tujuan meningkatkan dan memperbaiki kualitas hidup perempuan. Terutama mempercepat penurunan AKI dan bayi demi pembangunan sumber daya manusia.

Program GSI di kabupaten itu dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu, Kecamatan Sayang Ibu yang melaksanakan pendataan ibu hamil, kegiatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE), menyediakan pondok sayang ibu, menggalang dana bersalin dan donor darah, menyediakan ambulance desa, menyelenggarakan forum pertemuan secara teratur dan menyiapkan suami siaga.

Kedua, Puskesmas Sayang Ibu, melaksanakan pelayanan kesehatan ibu dan anak, konseling istri dan suami, pelayanan persalinan yang aman, perawatan ibu dalam masa nifas dan ambulance siaga.

Ketiga, Nagari GSI, melaksanakan kesepakatan ibu hamil dengan petugas kesehatan, memotivasi kepedulian masyarakat dalam GSI melalui Dana Sosial, Tabungan Ibu Hamil, kelompok bordir, rekening listrik, tabungan perantau, rumah singgah, himbauan-himbauan dari nagari dan KAN serta penyuluhan kepada masyarakat melalui seni randai.

Untuk menekan AKI, juga diperkenalkan 3 T dan 4 Ter. 3 T yaitu, terlambat mengenal tanda bahaya, terlambat dalam mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat dalam menerima pelayanan kesehatan yang prima. Sedangkan 4 Ter yaitu, terlalu muda untuk menikah, terlalu sering hamil, terlalu banyak melahirkan dan terlalu tua hamil. (sumber, Harian Singgalang, 5 Desember 2008)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Pertumbuhan Penduduk di Sumbar Mengkhawatirkan

Posted on Januari 14, 2010. Filed under: Tidak terkategori | Tag: |

Sumatera Barat merupakan penyumbang nomor lima pertambahan penduduk di Indonesia setelah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Utara.

Setiap tahun Wanita Usia Subur (WUS) berpotensi memiliki tiga hingga empat anak. Dari data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2003, Total Fertility Rate (TFR) masih 3,2. Tapi, pada tahun 2007, TFR malah naik menjadi 3,4. Padahal, TFR yang ingin dicapai pada akhir RPJM 2004-2009 di Sumbar adalah 2,8. Bila tidak ada intervensi pemerintah, maka dikhawatirkan akan terjadi baby boom.

Dampak ke depannya, bila pemerintah tidak mampu menciptakan lapangan kerja yang cukup, akan menyebabkan naiknya angka pengangguran dan kemiskinan.

Salah satu cara untuk mengatasi hal itu, kata Kepala BKKBN Sumbar, Muhammad Yamin Waisale, adalah dengan merevitalisasi program KB, menggeliatkan kembali pemasangan dengan Metode Kontrasepsi Jangka Pajang. Jenis alat kontrasepsi yang efektif dipakai dalam waktu lama adalah IUD, implant, Medis Operasi Pria dan Medis Operasi Wanita. Semuanya ditujukan bagi pasangan usia muda.

BKKBN Sumbar berusaha mengembalikan konsep Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera telah menjadi trade mark program KB di masanya. Tahun 2009 ini, BKKBN Pusat menargetkan pencapaian program KB di Sumbar sebanyak 130 ribu akseptor selama 2009. di antaranya dengan jumlah pemasangan IUD sebanyak 7.500 akseptor, vasektomi 200 akseptor, implant 24 ribu dan MOW 1.500 akseptor. (Lenggogeni)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

2015, Penduduk Indonesia Diprediksi Capai 255,5 Juta

Posted on Januari 14, 2010. Filed under: Tidak terkategori | Tag: |

Bila program Keluarga Berencana (KB) mengalami stagnansi, penduduk Indonesia akan terus bertambah hingga mencapai 255,5 juta jiwa pada tahun 2015. Kondisi itu akan berdampak pada peningkatan kebutuhan pangan sebanyak 13,5 persen.

Deputi Bidang Informasi Keluarga Pemandu Kebijakan, Drs.Bahari Harahap saat Rakerda BKKBN Sumbar di Hotel Bumi Minang, 12 Maret 2009 lalu mengatakan, hal itu membuat tantangan program KB semakin berat ke depan. Karena, bila program KB ditingkatkan, akan terjadi penghematan sekitar 8 persen.

Berdasarkan analisis cost benefit program KB yang dilakukan oleh pakar, program KB sampai saat ini telah berhasil mencegah kelahiran sekitar 100 juta jiwa dan mempunyai manfaat besar bagi bangsa, misalnya mengatasi masalah kependudukan, menurunkan Angka Kematian Ibu melahirkan dan dapat menghemat pengeluaran pemerintah. (Lenggogeni)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...