Persalinan dengan Dukun Masih Tinggi di Agam

Posted on Januari 14, 2010. Filed under: Tidak terkategori | Tag: |

Di Kabupaten Agam Sumatera Barat, tingkat persalinan dengan menggunakan jasa dukun beranak masih tinggi. Dari data Dinas Kesehatan setempat, persalinan yang memanfaatkan dukun mencapai 54 persen. Sementara, yang ditolong bidan 40 persen dan dokter 3,2 persen.

Pemerintah Kabupaten Agam berupaya agar persalinan dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Salah satunya melalui program Gerakan Sayang Ibu (GSI). Dikatakan Bupati Agam, Aristo Munandar saat pelaksanaan program GSI, 26 November 2008 lalu, selama ini tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) selain disebabkan oleh faktor keterlambatan pertolongan karena tiga hambatan, seperti geografis, ekonomis dan sosiokultural, juga karena persalinan sebagian besar masih ditolong oleh dukun.

GSI merupakan program yang dilaksanakan oleh masyarakat bekerja sama dengan pemerintah dengan tujuan meningkatkan dan memperbaiki kualitas hidup perempuan. Terutama mempercepat penurunan AKI dan bayi demi pembangunan sumber daya manusia.

Program GSI di kabupaten itu dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu, Kecamatan Sayang Ibu yang melaksanakan pendataan ibu hamil, kegiatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE), menyediakan pondok sayang ibu, menggalang dana bersalin dan donor darah, menyediakan ambulance desa, menyelenggarakan forum pertemuan secara teratur dan menyiapkan suami siaga.

Kedua, Puskesmas Sayang Ibu, melaksanakan pelayanan kesehatan ibu dan anak, konseling istri dan suami, pelayanan persalinan yang aman, perawatan ibu dalam masa nifas dan ambulance siaga.

Ketiga, Nagari GSI, melaksanakan kesepakatan ibu hamil dengan petugas kesehatan, memotivasi kepedulian masyarakat dalam GSI melalui Dana Sosial, Tabungan Ibu Hamil, kelompok bordir, rekening listrik, tabungan perantau, rumah singgah, himbauan-himbauan dari nagari dan KAN serta penyuluhan kepada masyarakat melalui seni randai.

Untuk menekan AKI, juga diperkenalkan 3 T dan 4 Ter. 3 T yaitu, terlambat mengenal tanda bahaya, terlambat dalam mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat dalam menerima pelayanan kesehatan yang prima. Sedangkan 4 Ter yaitu, terlalu muda untuk menikah, terlalu sering hamil, terlalu banyak melahirkan dan terlalu tua hamil. (sumber, Harian Singgalang, 5 Desember 2008)

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: