IPKB

Oleh-oleh dari Singkawang

Posted on Juni 22, 2008. Filed under: IPKB |

TOKOH lintas agama bersinergi dengan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) mendukung program Keluarga Berencana. Pasalnya, program KB merupakan suatu keharusan sesuai anjuran dalam agama agar mewariskan generasi muda yang kuat dan tangguh. Demi terwujudnya generasi masa depan yang lebih baik dan berkualitas dibanding generasi sebelumnya.

Hal itu terbukti saat pertemuan silahturahmi tokoh lintas agama dan pers di Pontianak Kalimatan Barat, 21-24 April 2008 yang berlang¬sung alot dan sukses. Dalam pertemuan tersebut hadir lima tokoh agama, islam, Kristen Khatolik, budha, Hindu, Konghuchu dan 33 pengurus IPKB se Indonesia.
Pada kesempatan itu, BKKBN Sumatra Barat mengirim dua utusan, Elfa Zulmaini, S.E., M.Pd (Kasi Advokasi KIE BKKBN Sumbar sekali¬gus Wakil Ketua IPKB Sumbar) dan Arfen Drinata (Ketua IPKB Sum¬bar).
Dengan adanya kontribusi media massa dan pemuka agama dalam menyukseskan Program KB Nasional dapat memberikan sinergi revita¬lisasi KB yang diharapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Harganas di Ambon beberapa waktu lalu.
Dalam hal ini, media massa berperan mengenalkan maksud dan tujuan program kepada masyarakat luas. Sementara para pemuka agama memberikan landasan berupa hukum agama maupun fatwa, lalu menye¬barluaskannya kepada masing-masing umatnya.
Para wartawan media massa dan pemuka lintas agama memainkan perannya secara seiring dan berkesinambungan. Melalui media cetak dan media elektronika, para wartawan mengangkat isu-isu program KB Nasional. Tindakan itu dilakukan perubahan wawasan dan perila¬ku masyarakat sehingga program dapat diterima sebagai suatu kebutuhan.
Sedangkan para pemuka agama, melalui mimbarnya berusaha meyakin¬kan umatnya masing-masing bahwa program KB merupakan suatu kehar¬usan mewariskan generasi muda yang kuat dan tangguh. Sehingga dampak yang dihasilkan sangat luar biasa. Program KB membudaya di tengah-tengah masyarakat, karena secara nyata mampu menekan angka pertumbuhan penduduk Indonesia.
Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Pusat, Dr., Sugiri Syarif MPA mengatakan, masyarakat tidak perlu meragukan landasan hukum keagamaan untuk program keluarga berencana. Karena pada pertemuan lintas agama yang dihadiri seluruh pimpinan organisasi keagamaan tingkat pusat yang digagas bersama BKKBN dan departemen agama tanggal 30 Januari 2008 di hotel Borobudur Jakarta telah disepakati secara hukum, KB tidak bertentangan dengan dengan hukum agama yang ada di Indonesia.
“Tapi persoalannnya adalah bagaimana kita semua meningkatkan frekuensi dan intensitas sosialisasi dan edukasi program KB kepada masyarakat melalui jalur-jalur keagamaan. Sosialisasi dan edukasi KB hendaknya disesuaikan dengan paham ajaran dan pelaksa¬nan masing masing agama,” tegasnya.
Dalam pemamarannya di hotel Orcardz jalan Gajah Mada Pontianak, tokoh agama islam, Cholil Nafis Lc Ma memaparkan, para ulama membolehkan keluarga berencana. Dalam hal ini, mereka sepakat bahwa keluarga berencana yang dibolehkan syari’at adalah suatu pengaturan/penjarangan kelahiran atau usaha pencegahan kehamilan atas kesepakatan suami istri. Karena situasi dan kondisi tertentu untuk kepentingan keluarga. Dengan demikian KB disini mempunyai arti sama dengan pengaturan jarak keturunan. Sejauh pengertiannya adalah pengaturan keturunan, bukan pembatasan keturunan dalam arti pemandulan dan aborsi maka KB dilarang.
Hal senada juga diungkapkan tokoh agama khatolik, program KB sudah dibolehkan, dengan tujuan mewujudkan keluarga sejahtera. Karena itu, dibolehkan pengaturan jarak kelahiran anak, tapi pengatuahan tersebut harus menghormati dan memtaati moral khatolik.

Singkawang Surga Program KB
Salah satu bukti agama tidak menghalangi atau menghambat kesukse¬san program KB terlihat jelas, ketika Pengurus IPKB berkunjung ke Kota Singkawang Pontianak, melihat dari dekat keberhasilan program KB di kota itu.
Ternyata, alat kontrasepsi tidak hanya dipakai orang melayu tapi juga etnis tionghoa. Pantas kiranya, kita menyebutkan Singkawang surga bagi Program Keluarga Berencana.
Karena keberhasilan program keluarga berencana Tionghoa mele¬burkan stigma negatif yang menyatakan masyarakat etnis tionghoa enggan mengikuti program keluarga ternyata tidak benar. Faktanya justru sebaliknya, masyarakat tioghoa Singkawang yang jumlahnya mencapai 43 persen dari jumlah total penduduk sangat respon terhadap program KB.
Sebelumnya, memang tidak bisa dipungkiri pelaksanaan KB di ma¬syarakat etnis amoi di Kota Singkawang menghadapi kendala, seper¬ti kesulitan komunikasi antara petugas dan peserta, karena bahasa masyarakat masih banyak belum mengunakan bahasa Indonesia. Pola pikir sebagian besar masyarakat tionghoa setiap keluarga harus memiliki anak laki-laki untuk meneruskan keturunan. Kurangnya kapasitas KB untuk etnis tionghoa, belum dilaksanakan metode yang tepat untuk penyuluhan KB kepada etnis Tionghoa.
Namun, hambatan tersebut berhasil dihadapi pemerintah Kota Sing¬kawang. Dengan mengikutsertakan Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) di dala memasyarakatkan program KB di kalangan etnis Tionghoa, melakukan pelatihan kepada kader etnis tionghoa, mem¬buat dan menyebarluaskan leaflet dengan dwibahasa (bahasa Indone¬sia dan bahasa tionghoa) dan memberikan motivasi kepada etnis Tionghoa yang telah mengikuti progra KB berupa penghargaan.
Dengan adanya kebijakan pemerintah kota setempat dan didukung majelis MABT Singkawang, program KB dapat diterima masyarakat Singkawang seutuhnya.
Saat ini, masyarakat Tionghoa Singkawang telah memiliki kelompok keluarga bina keluarga balita Khian Kong (sejahtera), kelompok KB pria siak fan po (sayang ibu), kelompok KB konsian him (Kontrasepsi dalam rahim), kelompok bina keluarga lansia khai lok (bahagia). Selain itu, juga telah mempunyai klinik KB (MABT) Kota Singkawang.
Berkat kerja sama yang kuat antara Pemerintah kota Singkawang dan masyarakat. Kota Amoi ini berhasil mendapat manggala Karya kenca¬na tahun 2007 waktu hari keluarga Nasional XVI di Ambon. Keberha¬silan tersebut karena Pemkot telah mendapatkaan 1000 orang akseptor. Lenggogeni

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Pengurus IPKB Sumbar Dibentuk

Posted on Juni 19, 2008. Filed under: IPKB, Tidak terkategori | Tag:, |

mejeng barengUntuk lebih mensukseskan program Keluarga Berencana di Sumatra Barat melalui penulisan, dibentuk Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB), Rabu (16/4) lalu.
Terpilih sebagai ketua IPKB Sumbar periode 2008-2013, Arfen Drinata (dari PKBI yang juga juara I lomba penulisan kesehatan reproduksi remaja tahun 2007). Sementara, anggota lainnya dari terdiri dari gabungan jurnalis serta staf BKKBN sendiri.

Ke depan, IPKB Sumbar akan lebih berkonsentrasi pada upaya revitalisasi KB dan mengambil peran proaktif dalam upaya memaksimalkan eksistensinya sebagai salah satu mitra yang strategis di BKKBN. Karena itu, IPKB akan memaksimalkan komunika¬si internal dan antar organisasi sekaligus mengembangkan promosi organisasi secara luas. Programmnya itu lebih diarahkan kepada upaya pencitraan dan penciptaan opini tentang keberadaan dan peran organisasi yang pro-KB.
Pembentukan IPKB tersebut menurut Sekretaris Badan Koordinasi Keluarga Beren¬cana Provinsi Sumatra Barat, Irawati, SH., MH., dilatarbelakangi menurunnya kesadaran Pasangan Usia Subur (PUS) atau masyarakat dalam memasang alat kontrasepsi. Kemunduran program keluarga berencana itu telah berlangsung semenjak tahun 1985 hingga sekarang.
Penyebab kemunduran program KB menurut Irawati yang didampingi oleh kepala-kepala bidang di lingkungan BKKBN Sumbar, Nofrijal, Esna¬lita, Yendrizal Busmar Edisaf dan Kasi Advokasi KIE, BKKBN Sum¬bar, Elfa Zulmaini, S.E., M.Pd, disebabkan kurangnya tenaga penyuluh pelayanan di lapangan. Akibatnya, masyarakat banyak yang tidak mengetahui keun¬tungan mengunakan alat kontrasepsi bagi kesejahteraan keluarga.
Berdasarkan data di BKKBN Sumbar, saat ini keseluruhan petugas lapangan yang ada berjumlah 394 petugas. Sementara sebelum otono¬mi jumlahnya sekitar 743 petugas.
“Karena itu, untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat masih dibutuhkan lebih kurang 300 petugas lapangan lagi,” jelas Kasi Advokasi KIE, BKKBN Sumbar, Elfa Zulmaini, S.E., M.Pd.
Tahun 2008 ini, BKKBN Sumbar memberdayakan para tenaga penyuluh terse¬but dengan memberikan pelatihan, pendidikan, dan orientasi. Disamping itu, dilakukan juga inovasi dalam metode pelayanan yakni dengan menjalin kerja sama dengan tenaga dokter dan bidan dalam hal pemasangan alat kontrasepsi serta kerja sama dengan para jurnalis dalam hal sosialisasi dan advokasi pada masyarakat.
Terkait persoalan dana untuk pelayanan program KB, pemerintah telah mempriotaskannya dalam APBN. Selain itu, untuk pelaksanaan penyuluhan pelayanan program KB sudah cukup banyak. Dana penyulu¬han tersebut berasal dari APBN, APBD dan Dana Aloka¬si Khusus (DAK).
Pembentukan IPKB Sumbar kata Ketua Panitia Etna Estalita, juga bertujuan untuk membangunan dan mempertahankan kemitraan dengan media massa. Sehingga dapat membantu mempengaru¬hi opini publik. Mempertahankan atau menghalangi persepsi publik terhadap mitos ‘banyak anak banyak rezeki’.
Dengan terbentuknya IPKB Sumbar, Kabid Keluarga Berencana Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN Sumbar, Nofrijal mengharap¬kan supaya program keluarga berencana bisa mencapai target. Pada tahun 2008, BKKBN Pusat menargetkan Sumbar bisa mencapai 123.000 akseptor KB.
“Hingga saat, BKKBN Sumbar telah mencapai 16 persen dari target tersebut,” tambahnya.

Sejarah IPKB
Sebenarnya, kerjasama antara BKKBN dengan media massa juga telah terjalin semenjak dicanangkannya Program KB Nasional pada 1970-an. Diikuti lahirnya Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) pada 20 Mei 1973, sehingga peran wartawan dan penulis lebih ditingkatkan. Sayangnya, seiring perkembangan zaman di tahun 1985, IPKB seakan hilang ditelan bumi alias mati suri dan tidak terlihat lagi gaungnya.
IPKB didirikan sekumpulan wartawan pemerhati masalah kependudukan dan KB. Antara lain, almarhum Susilo Murti wartawan Kantor Berita Nasional Indonesia (KNI), almarhum H Ngatidjo MW wartawan Beri¬tayudha dan almarhum Mas Tjik Hasanudin wartawan Harian Umum Pelita. Selain meliput kegiatan dalam dan luar negeri, pelatihan penulisan bagi wartawan. IPKB juga telah menerbitkan sekitar 27 buku antara lain, Senyum Untuk Semua yang menulis 25 tahun perja¬lanan KB, buku Penduduk Indonesia ke 200 juta dalam dua bahasa Inggris dan Indonesia, profil Haryono Suyono, profil tokoh-tokoh teladan KB dan profil institusi masyarakat pemerhati KB dan masalah kependudukan.
Untuk menggelorakan kembali semangat arus pemberitaan soal KB di media cetak maupun elektronik, IPKB kemudian menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) dari tanggal 28-30 Mei 2007 di Jakarta. Digelarnya Munaslub, karena nyaris selama hampir 11 tahun baru kembali digelar Munas IV IPKB.
Pada tahun 2007 lalu, IPKB pusat membentuk munas IV di Jakarta. Terbentuk sebagai pengurus pusat IPKB periode 2007 2012 Ketua Umum Bambang Sadono, SH, MH, Ketua I Bidang Program Drs Ipin ZA Husni, MPA, Ketua II Bidang Organisasi Yatim Kelana dan Ketua III Bidang Komunikasi dan promosi Organisasi Drs Addy Susilobudi, Sekretaris Jenderal Heru Subroto dan Wakil Bendahara Sancoyo Rahardjo. Organisasi juga dilengkapi korwil-korwil untuk sewi¬layah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa-Bali dan Korwil NTB, NTT, Maluka, Maluku.
Setelah hasil munas IV di Jakarta tersebut, BKKBN seluruh provin¬si di Indonesia kembali bertekad untuk mengaktifkan kembali IPKB, karena dapat memberikan dampak positif dalam menyajikan informasi kepada masyarakat. Pembentukan tersebut mengingat pentingnya peranan penulis yang mempunyai kepedulian terhadap KB dan kepen¬dudukan, serta seiring pula dengan revitalisasi Program KB Na¬sional, peran dan komitmennya juga perlu disesuaikan dengan perkembangan program kini dan ke depan. Lenggo

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Penderita HIV/AIDS Sumbar Meningkat

Posted on Juni 19, 2008. Filed under: HIV/AIDS, IPKB, Tidak terkategori | Tag: |

Penyebaran HIV dan AIDS di Sumatra Barat bagaikan fenomena gunung es. Selama tahun 2006 penderita bertambah 337 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi ketimbang angka pertumbuhan penduduk daerah ini.
“Kondisi ini perlu diwaspadai. Kita semua bisa terkena virus ini. Dari data yang kami dapatkan sebagian besar penderita adalah remaja yang berusia produktif. Dilihat dari kondisi ini menunjukan belum maksimalnya perhatian pemerintah terhadap penyakit mematikan ini,” kata Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumbar Firdaus Jamal, ketika berkunjung ke Singgalang, Kamis 29 November 2007.
Katanya tahun 2007, penderita AIDS dan HIV mencapai 272 orang, 125 penderita AIDS dan 24 orang penderita HIV. Jumlah itu meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Dilihat dari fenomena gunung es tadi, menurut yang rasio yang direkomendasikan WHO, angka ini harus dikalikan 100 untuk melihat jumlah kasus yang sebenarnya yaitu 27.200 orang. Berarti ada 26.928 orang HIV positif di Sumatra Barat yang belum diketahui statusnya,” sebut Fidaus didampingi Koordinator Program Remaja Cemara Arfen Drinata.
Menurutnya, untuk mengetahui jumlah yang sebenarnya dibutuhkan dana yang cukup besar, sebab pemeriksaan darah AIDS dan HIV itu memakan dana yang cukup besar. Namun sayang dana tersebut belum memadai. Padahal dengan tersedianya dana diperkirakan mengurangi perkembangan penyakit tersebut di tengah masyarakat.
“Jika dana ada maka orang yang merasa sudah terkontaminasi virus-virus mematikan itu akan memeriksakan darahnya ke dokter. Tapi karena dananya besar mereka malas memeriksakan diri. Untuk pemeriksaan ke rumah sakit butuhkan dana Rp185 ribu/orang,” ujar Firdaus.
Disebutkannya, untuk obat pemerintah menyediakan obat secara gratis. Di Sumbar sendiri obta tersebut disediakan di dua rumah sakit di RS. M. Djamil Padang dan di RS. Ahmad Muctar Bukitinggi.
Untuk mencegah penularan penyakit ini, ada beberapa upaya yang telah dilakukan. Diantaranya upaya preventif perawatan pengobatan dan dukungan untuk orang HIV positif yang dilakukan oleh pemerintah, instansi, dunia usaha, akademisi, ormas. Namun Kenyatannya upaya-upaya yang dilakukan selama ini belum lagi insentif menyeluruh terpadu dan terkoordinasi dengan baik.
Sementara Maydeta Gama, yang juga anggota PKBI sumbar, mengatakan di hari AIDS tahun ini, dia berharap masyarakat tidak mengucilkan mereka yang terindikasi menderita AIDS dan HIV. Sebab bagaimanapun mereka adalah manusia.
“Kami berharap dengan meningkatnya penderita AIDS dan HIV, menjadikan tantangan buat kita semua. Terutama bagi generasi muda, sebab penyakit ini menular bukan dikalangan penjaja seks saja, tapi kita semua bisa terindikasi, jika tidak wasapada sejak dini,” terang Gama.

Meningkat
Sementara data Ditjen PPM dan PL Depkes RI per 31 maret 2007, kasus HIV dan AIDS di kalangan remaja meningkat segnifikan secara kuantitatif.
Sebanyak 424 kasus terjadi pada remaja usia 15-19 tahun. Ditambah 4.884 kasus HIV dan AIDS pada remaja usia 20-29 tahun dari 14.628 total kasus HIV dan AIDS. Artinya, 35,04 persen dari total kasus HIV dan AIDS di alami remaja.
Di Sumatra Barat, meski belum ada data tentang jumlah yang pasti kasus HIV dan AIDS yang menimpa remaja bukanlah hal yang baru. Bahkan di antara mereka menimpa siswa sekolah berusia di bawah 19 tahun. Yunisma

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...